Husni Kamal
Crash Team Racing Pro Player (Drift). Blue fire addict. Had beaten Oxide and Emperor Velo XXVII in some time trial track. Tetris Pro Player. Rank #2 in Bandung.

Semi Hiking

Dingin masih menyelimuti badan. Bersama pekerjaan yang tidak pernah selesai, pikirannya pun terbang tinggi. Menyelinap diantara awan yang kalah gelap dengan malam. Menerobos sunyi, memaki-maki sebuah framework yang tak kunjung stabil. Memaki semuanya. Ia kesal saat itu.

“Jadi isuk teh?”.

Sebuah pesan dengan secepat kilat dikirim melalui sebuah layanan perpesanan instan yang sedang tren pada saat itu. Abad 20 menjadi era dimana dimulainya Industri 4.0, sebuah industri dimana semua hal, disangkutkan dengan sebuah automasi. Microcontroller, Internet of Things berbasis Cloud dan macam-macam.

Gunung Singa

Tak lama smartphone si pemuda pun berdering. Dengan cepat ia mengangkat sambungan telepon tersebut.

“Jadi kuy!”.

Sebuah kata singkat yang menunjukan kesetujuan. Sebelumnya memang si pemuda sudah bertanya beberapa kali perihal rencana semi-hiking menuju Gunung Singa. Sebuah gunung yang tak terlalu tinggi namun cukup untuk sarana berolahraga, berkeringat, karena track yang dijajal pun tak bisa di sepelekan. Dengan tinggi kurang dari 1200 MDPL, Gunung (atau bukit) yang terletak di daerah Soreang, Bandung ini mulai populer belakangan ini, khususnya untuk warga sekitar Soreang.

Setiap akhir pekan, banyak ibu-ibu maupun keluarga yang berombongan datang untuk mendaki Gunung (atau bukit) tersebut. Mungkin mereka pun sama. Lelah dengan rutinitas, ataupun ingin menikmati ketinggian.

Setelah sekian purnama, akhirnya si pemuda dan dua temannya pun sepakat akan camp selama satu malam di dekat warung sebelum puncak. Selain tempatnya dekat, lokasinya sangat strategis dengan pemandangan yang eksotis.

Kala malam, kota menyajikan sejuta lampu yang indah. Dengan kendaraan-kendaraan yang hilir mudik melintasi tol soroja yang masih terkesan baru. Walaupun, malam menyembunyikan kegagahan Gunung Puntang di sebrang sana, hal tersebut tidak mengurangi nikmat penglihatan yang terkadang kita lupa untuk syukuri.

Wajar

Adalah hal wajar jika seseorang malas untuk memulai. Karena memang, terkadang langkah pertama merupakan suatu hal yang terberat. Dalam dunia pendakian, sangat disarankan ketika akan menjajal suatu Gunung, untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Dengan lari-lari kecil yang konsisten misalnya, selama dua minggu sebelum pendakian.

Hal itu dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan selama pendakian. Karna bisa dibilang, mendaki gunung bukanlah olahraga yang bisa di sepelakan. Baik fisik maupun mental, keduanya harus dimiliki oleh para pendaki gunung.

Dua teman si pemuda mulai merasa kelelahan ketika akan menjajal tanjakan kedua. Dikarenakan kurangnya fisik, temannya pun mudah merasakan lemas dan pegal di sekitar lutut. Solusinya, ya berjalan dengan tempo konsisten dan tidak terlalu lama beristirahat. Karena ketika si pemuda terlalu lama beristirahat, ia akan terlena dan wabah “mager” pun tak bisa dihindari. Selain tak bisa dihindari juga bisa menular. Baik itu kepada rekan pendakian, maupun orang yang lewat.

Sebelum Puncak

Pendakian membutuhkan waktu sekitar 45 menit (kurang lebih). Dengan berjalan perlahan menyesuaikan antara tempo dan fisik si pemuda yang bisa dibilang lemah. Azan maghrib berkumandang setelah sampai di tempat yang akan dijadikan campground mereka.

Tanpa basa-basi, si pemuda dan temannya pun langsung membangun tenda. Setelah itu langsung menggelar sajadah dan sembahyang. Ahh . . sudah lama ia tidak merasakan shalat dibawah naungan pohon rindang. Backsound serangga malam yang masih pekat kala itu sungguh menentramkan hati.

Pemandangan kota kala itu sangatlah indah. Cahaya lampu perkotaan pun sangat memanjakan mata. Didukung cuaca yang cerah tentunya. Ahh, sungguh si pemuda pun sangat menikmati malam itu. Lantas, sejenak melupakan rutinitas yang sangat membuat frustasi, juga beban yang entah darimana datangnya, dan apa yang dipikirkan, namun selalu memenuhi lamunan pun hilang sejenak. Ia hanya ingin fokus menikmati suasana gunung yang tenang.

Bandung, 3 Oktober 2020

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *