Husni Kamal
Crash Team Racing Pro Player (Drift). Blue fire addict. Had beaten Oxide and Emperor Velo XXVII in some time trial track. Tetris Pro Player. Rank #2 in Bandung.

Menuju Basecamp

Tentang pengelanaan kali ini. Bersama bunga yang masih bermekaran di pucuk gunung sore itu, bersama gagahnya Merapi di sebrang sana. Hanya ingin melepas kepenatan. Bukan tentang menjadi seorang kuli, tapi tentang menjadi seorang abdi.

11 Jam yang sangat lama. Bersusah payah untuk memejamkan mata, walau hanya sekejap. 11 Jam yang sangat melelahkan. Walaupun kereta berhenti di beberapa stasiun, hatinya terlalu enggan untuk melangkahkan kaki menghirup udara stasiun.

Stasiun Purwosari

Ia pun lantas menuju musholla yang ada di stasiun tersebut. Menaruh tas carrier, lalu mengambil wudhu. Dengan khusyu ia tunaikan shalat ‘Isya dan Maghrib dengan jama’ ta’khir, lalu duduk di luar dengan tenang. Ia pun melihat kesekelilingnya. Si pemuda baru kali merasakan suasana stasiun di daerah Jawa Tengah. Sebelumnya ia hanya pernah ke Jawa Tengah dengan menaiki bus. Itu pun bus pariwisata, rombongan dari kampungnya.

Stasiun purwosari menjadi titik temu antara rombongan si pemuda, rombongan Bandung yang satu gerbong, satu orang kawan dari Jakarta, juga kawan yang baru turun dari Gunung Prau. Setelah semua terkumpul, suhe menghitung jumlah total dari rombongan, dan kemudia menghubungi supir dari basecamp yang menyediakan jemputan untuk ke Gunung Merbabu.

Awalnya, supir agak sulit untuk dihubungi, namun karena hanya ada satu-satunya mobil terparkir di parkiran stasiun subuh itu, suhe pun berinisiatif untuk mengetok pintu mobil tersebut. Disamping karena si supir juga sudah memberi tahu sebelumnya kalau ia juga sudah berada di stasiun. Dan ternyata benar. Si supir menunggu sampai ketiduran. Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat menuju pasar terlebih dahulu untuk membeli keperluan logistik. Setelah selesai, mobil pun berangkat menuju basecamp, salah satu basecamp terkenal dan paling tua. Basecamp pak Parman.

Stasiun – Pasar – Basecamp

Setelah dari pasar, perjalanan yang ditempuh, kurang lebih adalah 30 menit untuk sampai ke basecamp. Perjalanan menuju basecamp di Selo ini merupakan pemandangan yang sangat indah. Sebelum mencapai basecamp, mata akan disuguhkan pemandangan dari gagahnya Gunung Merapi. Si pemuda bergumam dalam hati,

“Belum pernah aku melihat merapi sedekat ini!”.

Jalan berkelok untungnya tidak membuat si pemuda menjadi pusing. Wajar, si pemuda biasanya sering mengalami mabuk perjalanan. Apalagi jika menggunakan kendaraan roda empat.

Tak hanya di perjalanan saja. Ketika sampai basecamp, pemandangan sunrise pun tak kalah indah. Lautan awan terlihat sangat jelas dari jalan raya depan basecamp.

Nikmat Tuhanmu yang manakah, yang engkau dustakan?

Sungguh pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.

Basecamp Pak Parman
Sumber: Pink Travelogue

Sesampainya di basecamp, mereka pun mencari tempat kosong untuk istirahat sejenak. Ternyata, dua orang rombongan yang baru turun dari Gunung Prau belum melakukan registrasi. Sedangkan rombongan si pemuda dan rombongan Bandung, telah melakukan registrasi online sebelumnya. Mau tak mau, mereka pun pergi ke tempat registrasi untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).

Sambil menunggu, rombongan pun memesan makanan untuk sarapan. Perjalanan 11 jam yang melelahkan membuat perut minta diisi. Makanan-makanan yang tersedia di basecamp harganya sangat murah. Kala itu, kurang dari 15 ribu saja, porsi yang didapatkan sudah mengenyangkan perut. Satu porsi nasi goreng juga teh manis. Rasa lapar memang membuat lidah lebih peka untuk merasakan suatu masakan.

Selesai sarapan, semua rombongan melakukan packing barang. Barang apa saja yang akan di bawa, dan barang apa saja yang akan di titipkan di basecamp. Selalu berhati-hati jika akan menitipkan barang. Lebih baik, bawa barang berharga naik ke atas. Lalu setelah packing, rombongan pun siap untuk melakukan pendakian.

Sebelum pendakian, semua pendaki diharuskan untuk mengikuti pengarahan dan pemeriksaan barang. Tiap rombongan akan di briefing oleh satu orang relawan dari TNGM, juga akan di periksa, barang apa saja yang di bawa. Sedikit pengingat untuk para pendaki, agar tidak membawa tisu basah ke Gunung Merbabu. Jika ketahuan, pendaki akan di blacklist. Setelah pengarahan, ketua regu akan melakukan registrasi ulang, yang nantinya, akan diberi satu gelang yang katanya ada GPS-nya, supaya mudah dilacak.

Setelah semua siap, rombongan pun melakukan pemanasan. Pendakian pun dimulai.

Bandung, 23 Juli 2020

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *